Now Playing Tracks

AFTER THE WAR

Finally, setelah sekian lama…. gw berperang dengan ingatan akan SEBENARNYA APA PASSWORD GEROBAK SAMPAH TERCINTA GW INI….. Akhirnya gw MEMENANGKAN perang tersebut dengan cara…. RESET PASSWORD.

Terimakasih Klinik TongFang.

Happy New Year Everyone and Welcome again Tumblr World

Layanan Ekstra atau Degradasi Budaya?

image

Kehidupan ini sudah semakin berkembang setiap zamannya. Selalu ada ciri khas terhadap kaum suatu zaman. Sebagai contoh kaum yang hidup di zaman purba, mereka hidup dengan sangat bergantung kepada alam. Membunuh diantara manusia sudah menjadi hal yang wajar untuk mendapatkan sesuatu. Contoh yang lain zaman kolonialisme, dimana masyarakat ditindas dan dipaksa untuk memproduksi suatu barang, yang pada umumnya dipakai untuk sang penjajah berperang melawan musuhnya. Hal itu semua adalah romantika masa lalu yang memang ada dan kita tak bisa menegasikannya.

Beranjak dari masa tersebut, mari kita lihat zaman sekarang. Pertanyaan yang sama akan muncul dibenak kita, apa yang menjadi ciri khas kaum zaman sekarang. Jika saya boleh mengatakan, ciri khas kaum zaman ini adalah UANG. Zaman ini adalah periode waktu yang mengkreasikan uang sebagai kertas tak bernilai menjadi suatu alat untuk mendapatkan segalanya. Memang di zaman penajajahan dulu uang sudah ada, tetapi itu bukanlah komoditas utama yang diperebutkan, mereka lebih memilih kebanggaan atas menangnya suatu peperangan fisik. Zaman ini, uang menjadi komoditas utama yang selalu menjadi langganan alasan untuk para manusia menuju ke kota, membuka suatu usaha, layanan dan lain – lain.

Uang memang sangat menarik, dia dapat membeli semua yang ada di dunia ini. Mulai dari barang bergerak hingga tak bergerak, berwujud hingga tak berwujud. Tapi saya masih yakin bahwa masih ada yang tak bisa dibeli oleh uang, contohnya persahabatan. Sebanyak-banyaknya uang yang kita miliki, sebuah persahabatan tak akan bisa dibeli. Tapi dalam tulisan kali ini saya tak akan membahas persahabatan, tapi saya membahas dampak dari dibutuhkannya uang tersebut.

Uang yang menjadi tuhan kedua bagi pemeluk agama dan pertama bagi yang tidak ini membuat semua hal yang sebelumnya tak bisa menjadi bisa. Menurut hemat saya, hal ini telah sangat sukses mempengaruhi budaya masyarakat. Sebagai contoh, saya akan mengambil budaya mengantri. Sadarkah kalian, budaya mengantri sudah bisa dibeli atau dinegasikan keberadaanya asal kamu punya uang. Sepertinya kita semua sudah akrab dengan proses pembelian tiket bioskop atau transportasi pesawat. Saat ini sudah ada layanan yang memungkinkan seseoranga tak usah mengantri, cukup membelinya lewat on-line ­atau internet, kamu sudah bisa mendapatkan tiket tersebut tanpa menunggu antrian yang panjang. Apa segitu mudahnya? Tidak juga sih, karena kamu harus menaruh saldo di bioskop tersebut terlebih dahulu. Mekanisme tersebut, secara halus, telah mengakibatkan kita menetapkan sendiri jatah atau saldo untuk berbudaya konsumtif terhadap bioskop itu sendiri. Tetapi atas nama layanan ekstra yang dilakukan bioskop, maka hal tersebut menjadi tertutup dan masuk ke rona abu – abu yang sering saya sebut dengan Marketing.

Hal serupa terjadi ketika kita menaiki pesawat. Terkadang jika kita sadari disaat semua orang mengantri di satu garis yang sama, ada beberapa orang yang dengan mudahnya berjalan lurus melewati garis antrian lalu didahulukan oleh petugas bandara. Yap, mereka adalah para konsumen dengan layanan premium service, dimana dengan uang lebih yang mereka miliki, mereka membeli mekanisme cepat, tanpa antrian sejak proses check-in hingga boarding. Sekali lagi, atas nama pelayanan ekstra, mereka dapat melewati budaya antri dengan enaknya.

Marketing memang terkadang membingungkan. Dalam satu pandangan, hal itu sangat layak, legal dan boleh dilakukan, karena itu sebuah pelayanan yang memang diberikan oleh suatu pihak. Melihatnya dalam perspektif budaya mengantri yang sudah ditanamkan sejak kecil di Negara ini, sepertinya pelayanan tersebut memang bukan teman baik untuk budaya itu. Dalam tulisan ini, saya bukanlah ingin memprovokasi pembaca untuk memutuskan tidak menggunakan layanan ekstra atau membuat suatu judgment. Saya hanya ingin kita mencoba melihat sekitar, bahwa zaman ini, uang telah bisa membeli semuanya dan atas nama pelayanan ekstra dengan uang yang ekstra, kamu bisa terbang, jalan, dan bahkan berenang dengan bebas dari aturan – aturan kemasyarakatan, sosial budaya yang  telah hidup di Negara ini sejak dulu.

RAHMAT DWI PUTRANTO

IUP FH UGM 2010

 

 

AICT - Ekplorasi Pulau Biawak, 22 - 25 Feb 2013 #2

 

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, kami tiba menginjak daratan dan segera menyerbu 2 hal yang ada disana, TOILET dan JAJANAN. Perut memang hal yang paling membuat manusia gemetar, baik menahan luapan air dalam diri dan luapan hasrat menyantap gorengan, cilok dan lain-lainnya, hehe. Setelah melalui hal itu semua, seluruh rombongan yang berjumlah sekitar 90-100 orang itu menuju masjid besar disekitar sana untuk beristirahat, mandi-mandi dan membuat forum untuk mendiskusikan kegagalan ke pulau biawak dan membuat rencana untuk mengganti kegiatannya kemana. untuk masalah apa yang diomongin, saya gak mau tulis aaah, kepanjangan soalnya haha. In the end of the discussion, we are going to bandung again dan sempat mampir ke balongan untuk makan siang dulu. Di tempat kita makan siang itu kebetulan dekat pantai, jadi membuat rombongan pun sedikit terhiburlah dengan kegagalan ke pulau biawak. Tapi, hal ini membuat rombongan agak berhalusinasi, hampir semua yang ada didekat pantai dianggap biawak semua, mulai dari pasir, tongkat, rumah hingga ERLAN sang empunya AICT pun dianggap mirip Biawak, tapi mirip sih emang dikit. Haha.

Memasuki hari-hari selanjutnya, kami kembali ke Bandung lalu menginap di GGM (Gedung Gelora Muda) bukan GGMU ! hehe. Disana kami beristirahat dan bercengkrama bersama sambil menikmati hari-hari akhir kami di AICT. Setelah puas seharian istirahat, keesokannya kita menuju BPLHD untuk berdiskusi tentang pariwisata di Indonesia, Solving gitulah bahasanya si Bagus sang duta wisata dari Bojonegoro. Diskusi berjalan cukup panas diawal dan berakhir mulus selama proses hingga makan siang. Setelah makan siang ini, lalu menjadi cukup panas lagi, karena mendadak panitia menawarkan agenda kegiatan lain dari yang di-JARKOM saat pagi hari, yaitu menuju CITATAH, karena disana ada isu lingkungan terkait pegunungan karst dan perusahaan pengeruk kapur disana. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk kesana, oleh karena itu saya ingin mengobservasi diawal, tetapi malah sempat dikira menolak. Saya percaya yang namanya bergerak untuk mengadvokasikan suatu permasalahan, kita harus paham dulu, oleh karena itu saya mengeluarkan quotes yang cukup terkenal dikalangan FH UGM “ BERGERAK MELALUI PEMAHAMAN”. Hhee..

Setibanya di Citatah, semuanya tampak bagus dan mulus-mulus saja. Lalu saya mencoba memisahkan diri dari forum yang berkumpul di sekolah alam, saya memilih untuk ngobrol dengan masyarakat langsung dari wajah ke wajah (Face to Face). Ternyata memang isu disana cukup krusial menurut saya, banyak pelajaran yang saya dapatkan. Garis besarnya, permasalahan disana itu adalah banyaknya penambang-penambang kapur yang rakus sehingga membuat tebing di gung tersebut menjadi rusak dan tidak enak dipandang, serta kerusakan lingkungan yang jika dibiarkan akan terus semakin parah. Padahal lokasi tersebut sudah dijadikan kawasan konservasi dan tak boleh ditambang kapurnya, tapi yang namanya pengusaha lebih cerdik juga dari pemerintah, mereka memang tidak menambang Gunung Pabeasan, inilah yang ditulis di dalam peraturan, dia menambang kaki-kaki gunung pabeasan yang ternyata namanya diperbarui dan dibedakan menjadi gunung lamegan atau apa gitu. So, disinilah terjadi pembelokan hukum oleh sang empunya modal. Cukup pintar ternyata yaaa. Tetapi sempat keluar memang dari mulur masyarakat disana bahwa sebenarnyapun tidak apa-apa kalo ditambang tapi para buruh tambangnya mohon dilindungi, seperti disediakan peralatan keselamatan yang baik serta asuransi sehingga kerja merekapun nyaman. Tetapi sebenarnya kasus inipun sudah diselesaikan ditingkat pemerintahan dan sudah keluar hasil audiensinya, tetapi memang belum dilaksanakan. So, fokus advokasi masyarakat disana sekarang tinggal implementasi dari putusan yang telah dibuat bersama tersebut.  Setelah puas berdiskusi, kamipun berkegiatan sesuai minat masing-masing di Citatah tersebut. Ada yang melakukan panjat tebing ada yang hiking ada juga yang tidur-tidur-ing. Hehe. Kalo saya sendiri memutuskan untuk hiking, awalnya saya ga mau, tapi apa daya seluruh alam berbisik untuk mengajak saya menginjak puncak gunung pertama, gunung pabeasan. Haha.

 

Woaaaaa, ternyata perjalanannya cukup berat bung. Banyak tebing-tebing yang harus dipanjat, batu batu yang harus dilalui dan tanah-tanah yang cukup banyak diinjak. Bermodalkan jeans, baju pantai dan sandal yang sangat lemas, saya naik gunung. Setelah perjuangan yang cukup keras dan merelakan sedikit darah ini diminta oleh berbagai tanaman tajam dan hewan hewan kecil yang jelita, saya berhasil berdiri diatas puncak !!! hehe ada videonya loh di Youtube, KLIK aja http://youtu.be/wcXbP0glXqs Terimakasih banget buat nadia yang dah bawa kamera nya yang gede untuk poto-poto dan bikin pideo diatas. Haha

Tapi kawan-kawan, perjalanan gak berakhir disana. Track turun gunung ternyata lebih sulit. Ada tebing yang harus kita lewati sambil berbalik badan dan menebak-nebak kaki kita akan mendarat dimana, karena langit sudah gelap menjelang magrib. Finally, dengan segala teknik termasuk seluncuran karena tanah sangat licin mendukung badan seluncur dengan sandal hehe, kita tiba dibawah dan langsung disambut angkot yang membawa rombongan kembali ke GGM.

Acara lalu dilanjutkan dengan beres-beres dan makan-makan di GGM. Menyambut malam terkahir, saya ayip nadia dan meta sebagai sok sok an pura-pura ninja kaya di perahu kertas jalan jalan cari makan diluar, muter-muter jauh, eh tapi malah gak dapet dan akhirnya makan dideket GGM, batagor ! what a shame…. Lanjut setelah itu kita masuk ke GGM lagi dan kita bersama seluruh peserta nge-BULB duluuu. Itu adalah komunitas Light Art Bandung. Kreasi seni baru dalam bentuk ngelukis pake cahaya. Kerenlah siak ini pokoknya, aing teh ampe bingung. Haha.

  

Malam itu 24 februari 2013 menjadi malam terakhir untuk seluruh peserta di acara AICT. Bermodalkan gitar pinjeman, saya menggenjrengnya dan bernyanyi, menggalau dan tertawa bersama-sama. Khusus yang bagian tertawa karena kebanyakn juga saya lupa kord lagunya, jadi agak kurang syahdu gitu. Yaa, maklum kan bukan gitaris. Tapi, ada kok lagu-lagu yang emang kordnya muluuss, tenang aja J. Sebenernya saya sekarang lagi nungguin kapan video rekaman cover lagu chrisye-cintaku dan Tanah Air Beta nya yang dinyanyikan oleh para peserta di GGM di publish sama rekan-rekan BULB, Kita tunggu yaa. Nanti saya posting lagi deh. Haha.

  

Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Akhirnya malam itu juga jadi malam perpisahan buat Pura-Pura Ninja dadakan. Yap ! si Meta anak Arsitektur ITB dan Nadia anak Teknik Kimia UNPAR harus kembali ke kosannya dan saya serta AYIP harus menjadi ajudannya serta seorang supir taxi yang mengantarkan mereka. Huhuuu… sedih yaa. Perasan baru kemaren nemu keluarga baru, sahabat baru tetapi harus dipisahkan. Sebenarnya yang paling sedih adalah si Ayip karena kudu ditinggal Meta #eeeaaa. Hha (peace).

In the end of the story, saya mengucapkan TERIMAKASIH kepada semua peserta yang dah baik baik bangeeet, seru seru bangeeeett, terimakasih untuk panitia, meski gak mengantar ke biawak tapi setidaknya mempertemukan kami semua di Bandung dan membuat kami belajar banyaak disana. Terimakasih untuk Ayip sang anak pesantren yang ngocol tapi baiklaaah. Thanks brooh !! thanks buat Meta ama Nadia yang dah jadi temen seru-seruan, bahan bullyan dan segalanya lah pokoknya yak. Bener-bener kaya Pura-Pura ninja di Perahu kertas, tapi jangan ampe kaya beneran aja, bisa berabe nanti kehidupan masing-masingnya. Hahaha. Terimaksih dah jadi keluarga baru dan teman baru untuk saya. Semoga pelajaran-pelajaran yang kita dapatkan dapat bermanfaat untuk kita semua. Sampai jumpa kawan-kawanku, semuanyaaaaa !! teman-teman Jogja, Jambi, Makassar, Jawa, Kalimantan dan semua yang belum saya sebutkan. TERIMAKASIH !!! SEE YOU IN JOGJAKARTA !!!!!

AICT - Eksplorasi Pulau Biawak, 22-25 Feb 2013 #1

Berangkat dari kota setangkup penuh rindu, begitu kata Kla Project tentang Yogyakarta, saya dan Sembilan peserta lainnya berangkat dari stasiun Lempuyangan dengan membawa nama kebanggan kontingen AICT Jogja menuju Stasiun Kiaracondong, Bandung. Sebenarnya kontingen jogja ada berduabelas, tetapi 3 dari mereka, mbak atin, sekar dan etik, tidak bisa mengikuti dengan berbagai alasan, akhirnya mereka hanya menitip foto-foto biawak saja, hehe.

Yap, teman-teman AICT Jogjaku, JANU-ZAINAL-YOSE-RASYID-PUTRI-RISMA-AMI-ISNA dan saya sendiri melalui hampir 12 jam di kereta ekonomi kahuripan dan akhirnya kita tiba di stasiun kiaracondong lebih cepat dari seharusnya (tertera di jadwal). Kondisi saat itu bolehlah yaa kita apresiasi untuk PT.KAI yang walaupun keretanya telat dating pas di jogja tapi akhirnya dibayar dengan datang lebih cepat.

Berbadan dekil, penuh debu dan kotoran serta bau yang lumayan mirip nasi-nasi yang dijual didalam kereta membuat kami resah dan memutuskan untuk mandi. Yap!, kita mandi di STASIUN KIARACONDONG. Seperti pepatah sekali dayung, 3 pulau terlampaui, sambil mandi kita menunggu jemputan dari panitia AICT yang selanjutnya kita akan menuju lokasi pertemuan hari pertama di HOTEL HILTON. Hotel inilah yang akhirnya menjadi alasan kuat kami untuk MANDI bahkan harus dilakukan di stasiun. Terimakasih untuk mas-mas penjaga toilet yang kita belum kasih tips, walau udah ngeliatin mulu sambil ngoceh : *mandi-mandi, boker-boker tapi gak bayar* hha.

Di hotel Hilton ini, acara AICT hari pertama dilakukan. Kegiatannya berisi seputar pemberian materi, sharing, diskusi tentang permasalahan pariwisata di Indonesia secara umum dan membahas pulau biawak. Menurutku, pengisi materinya oke-oke. Oke disini mencakup secara materi dan visualisasi, seperti ada pemateri yang hanya oke fisiknya (buat cowok udah taulah ini siapa, yang pasti bukan UNAN. Hehe), ada yang oke materinya seperti Asep dari Komunitas Historia. Sebenarnya hal yang paling saya tunggu disini adalah saat saat dimana kita COFFEE BREAK, hehe. Bayangin, perjalanan jogja – bandung kita ga ada yang makan dulu atau sarapan dulu pas nyampe bandung. Pepatah padahal udah jelas bilang : “LOGIKA TANPA LOGISTIK ITU GAK JALAN” Hhee. Untungnya, di lokasi memang snack nya enak dan lumayan mengganjal perut.

Menit berjalan dengan setianya hingga menuju ke akhir acara hari itu dengan games AMAZING RACE, dimana seluruh peserta dibagi menjadi delapan kelompok dan kita diberikan uang untuk belanja di suatu tempat perbelanjaan dan disuruh untuk bertemu di lokasi yang udah ditentukan, yaitu UNPAD di dipatiukur, depannya monumen besar. Anyway, saya masuk dikelompok 8 namanya Candi Singosari, yang beranggotakan Saya, NADIA-NYSSA-Mama CITRA-RIA-OJI dan ZAINAL. Diketuai oleh ketua kecil nan sangat tomboy sekali bernama Nadia kami berhasil melalui dan melewati segala angkot-angkot yang bekeliaran tak beraturan dijalan dan mengemis-ngemis 20 tanda tangan sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh panitia. In the end of the day, kita sampai dilokasi dan sambil menunggu kita makan-makan dulu dan akhirnya kita duduk di BUS dan bersiap menuju INDRAMAYU lalu EKSPLORASI PULAU BIAWAK ! Yeah !!!

Raga ini memang sepertinya lelah sudah menghadapi segala rintangan hari ini, akhirnya baru beberapa saat saja di BUS, saya sepertinya sudah bercinta dengan mimpi-mimpi saya memeluk biawak dan bermain band bersama. Sekitar jam 4 pagi dari keberangkatan kita jam 10 atau 11 malam dari bandung, kita tiba di INDRAMAYU. Tetapi anehnya, meskipun tiba sudah cukup pagi, kami masih berada didalam bus dan menunggu kapan kita naik kapalnya, sementara beberapa peserta yang lain menunggu adzan. Dengan penuh hasrat yang tak terbendung, saya-Nadia-Nyssa dan Arya (selundupan peserta) keluar bus dengan ditemani beberapa manusia yang lain seperti zainal, tomingse dan mendadak manusia-manusia yang lain pun banyak berkeliaran keluar.

Sepertinya bakat menjadi intel memang ada dalam diri para peserta, terbukti kita langsung pada nguping pembicaraan para panitia yang sedang berdiskusi dengan para nelayan. Usut punya usut, ada isu ternyata kita tak BERANGKAT ke pulau Biawak, disebabkan oleh cuaca yang kurang mendukung, ombak yang  sudah mencapai 3 meter dan kapal yang memang diabawah 3 meter ketinggiannya. So, bisa dibayangkan akan menjadi apa kapal kita nanti jika tetap memaksakan. Dengan penuh kesedihan dan perdebatan panjang yang melelahkan, akhirnya kita tetap naik kapal nelayan untuk berlayar, tetapi bukan ke pulau Biawak tapi ke desa nelayan (sesaat mendengar kata desa nelayan tuh kaya di naruto-naruto gitu yak :p).

Gila bro, baru ke desa nelayan aja kita di laut sudah hampir 2 jam dan melewati terjangan ombak yang super dan hujan yang penuh dengan angin kencang. Hal ini sempat membuat para penumpang kapal agak sedikit……. Mabuk kepayang. Cara menunjukkan mabuk lautnya inipun sangat unik dikelompok 8, eh bukan hanya kelompok 8 dikapal saya, ada selundupan juga dari kelompok satu namanya AYIP yang ga tau dia dari kelompok mana tiba-tiba nempel ama kita. Hehe. Sebutlah namanya OJI, si kakashi ini sejak pertama naik kapal mukanya sudah ditutupi oleh masker debu. Sepertinya dia memakainya bukan untuk menyaring udara dari debu di laut tetapi menutupi muntahannya agar tidak kemana-mana haha. Ada juga namanya Mami CITRA yang pada awalnya terlihat sangat excited, tetapi ketika ombak semakin menantang mendadak diam lalu menutupi kepalanya dengan jaket, ternyata itu juga menahan muntah, haha. Nah yang ini unik juga, Ada juga yang mabok tapi dia malah ngajak ngomong-ngomong dan membuat psikologi cinta diatas kapal. Yap, suaranya beradu dengan ombak, hujan dan suara mesin. Kalo kalian Tanya isinya tentang apa? Saya cukup bisa mendengar suara mesin saja. Hehe untuk saya sendiri, apakah mabuk? Yaaaahhh. Cukuplan sedikit meludah-ludah dan menahan air agar tak meluber keluar mulut, hehe. Di perjalanan ini banyak hal menarik dan indah untuk dikenang, terutama saat saat saya, ayip dan nadia sok sok an mau nyemplung ke laut, melihat fotonya..terasa sekali… akan nyemplung. Kurang ajar emang si ayip ini. Hahaa

  

TO BE CONTINUED…

MOVIE REVIEW RECTOVERSO - Cinta Tak Terucap by R.D.P

image

          

  Sore ini, di kota Yogyakarta, tepat 14 Februari 2013 adalah hari Valentine yang mana buat pasangan adalah hari untuk ber-unyu ria, tapi tidak buat gw karena pasangan yang buat gw unyu sedang berada 558 km jauhnya disana, sebutannya kita sih Jomblo Geografis atau lebih dikenal sebagai LDR. Untuk mengisi kekosongan, langsunglah diri ini menuju tempat bioskop untuk melihat film apa yang lagi diputar, siapa tau ada yang bagus dan bisa ditonton. Maklumlah, mahasiswa tua udah gak ada kelas banyak jadi waktu berleha-leha jadi lebih bisa dinikmati.

Diantara judul film yang tayang pada hari ini, aku melihat satu film yang kuyakini bagus dari awal dan memang kutunggu kehadirannya sejak melihat cuplikannya di Youtube, film itu adalah RECTOVERSO. Yap, film ini adalah adaptasi dari novel bikinan Dewi “Dee” Lestari yang karya lainnya juga difilmkan dalam judul PERAHU KERTAS 1 dan 2. Melihat kesuksesan adaptasi novel PERAHU KERTAS menjadi film, saya tertarik untuk melihat karya Dewi lestari lainnya.

Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya saya menonton RECTOVERSO yang ditayangkan ja, 6 di teater 5. Begitu masuk studio, ekspektasi saya terhadap film ini semakin tinggi. Saya sangat berharap apa yang ditampilkan di film ini dapat menampilkan sesuatu yang lebih dari film PERAHU KERTAS.

image

            RECTOVERSO adalah film Omnibus garapan sutradara yang juga artis yaitu Olga Lydia, Marcella Zalianty, Cathy Sharon, Happy Salma dan Rachel Maryam, film yang terdiri dari beberapa cerita yang dijadikan satu film, berjudul Malaikat Juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat Buat Sahabat dan Hanya Isyarat.. Film ini mengisahkan tentag sebuah fenomena dan peristiwa menarik dan mengharukan atas sebuah perasaan yang dengan kekuatannya menahan hingga tidak menguap dan membanjiri sekitar dengan keegoisan atas nama cinta. Dalam film ini kita akan disuguhkan bagaimana seni untuk menahan suatu perasaan cinta atau gairah untuk memiliki.  Oleh karena itu tagline dalam film ini berjudul “Cinta Tak Terungkap”. Seluruh cerita ini memiliki satu garis merah yang sama dimana sang tokoh tak membiarkan cinta yang terpendam dalam hatinya itu meluap keluar dan diketahui oleh orang lain. Tetapi tidak diketahuinya perasaan tersebut bukan karena keinginan sang tokoh, tetapi kondisilah yang membuatnya seperti itu. Begitulah kira-kira garis besar cerita ini.

            Tetapi jangan kira alur cerita ini begitu sederhana disajikan dilayar kaca. Saya salut dengan orang-orang dibalik layar film ini. Pembuat naskah, Storyboard/Storyline, Director, Pencari actor-aktornya, kru-kru nya dan kameramennya. KALIAN SEMUA GILA ! KEREN BANGET !.

            Di awal film ini, kita dibawa untuk memahami suatu kondisi awal dari sebuah cerita setiap aktor dalam film ini. Memahami cerita awalnya pun dibuat dengan sangat baik dan tanpa cacat sedikitpun. Pengambilan gambar dan alur kamera yang halus dan baik memudahkan mata untuk menikmati cerita dengan syahdu. Warna cahaya yang baik dan kualitas gambar yang unik membuat mata ini termanjakan akan rapihnya film ini. Serius ! first impression yang baik telah dibangun dengan sukses di film ini.

            Di tengah film, RECTOVERSO memanjakan mata kita dengan sangat luar biasa, menempatkan para aktor dan aktris cantik dan ganteng dan berlabel bintang kumpul semua di film ini. Mulai dari Lukman Sardi, Dwi Sasono, Indra Birowo, Fauzi Baadila, Prisia Nasution (My Favorite One), Julie Estelle, Sophia Latjuba, Asmirandah, Acha Septriasa dan lainnya. Film ini layaknya Valentine’s Day garapan Negara paman sam yang juga bertabur bintang. Uniknya, meski banyaknya bintang di film ini, ceritanya tetap menarik dan asik untuk dinikmati. Karena jika kita melihat film Valentine’s Day yang juga bertabur bintang tetapi malah membuat filmnya sendiri hambar karena acting mereka menjadi kurang maksimal (entah apa yang membuat seperti itu).

            Film ini membawa penonton untuk mengaduk-ngaduk hatinya sendiri dengan berjuta perasaan. Kalimat-kalimat indah yang dilontarkan para aktor dan aktris dalam film ini menambah syahdu ceritanya. Gesture & Body Language yang dilakukan dalam film ini semuanya terlihat begitu natural dan nikmat. Bagian paling yang mudah dilihat adalah ketika Sophia Latjuba dan Aktor Lelakinya melakukan adegan seks yang mana hanya dilakukan dengan menahan gairah. Inilah yang membuat saya melihat film ini lebih baik. Biasanya, film barat selalu identik dengan seks jika ingin membangun suasana yang romantis, seni dan bergairah. Tetapi, RECTOVERSO dapat membuktikan sebaliknya bahwa adegan seks tidak selamanya tepat untuk membangun situasi yang demikian. Tetapi adegan yang menjurus tetapi bersifat menahan gairah adalah yang paling tepat digunakan.

            Adegan-adegan yang terdapat dalam film ini, menurut saya, luar biasa semua. Ekspresi dari para aktor sangatlah total dan tak dapat ditemukan di sinetron atau FTV yang biasa di televisi. Disinilah kita melihat bahwa pemain film Indonesia berbakat sekali.

            Secara keseluruhan, film ini mengajak kita kepada dimensi yang membuat kita ikut merasakan bagaimana jika kita menahan suatu perasaan cinta kepada seseorang yang sangatlah dalam. Denyut nada cinta penuh keikhlasan dan ketulusan diajarkan dengan luar biasa di film ini. Salah satu yang membuat kita terenyuh dalam perasaan cinta yang tulus yang dimiliki Abang kepada Leia atau Indra Birowo sebagai sahabatnya Acha Septriasa. Film ini membuat kita sadar bahwa orang yang kita cintai belum tentu sadar akan cinta yang kita sadari hanya jatuh untuk dia. Hanya melihat sesuatu yang sangat kita inginkan berada dalam pelukan kita dan tidak pernah memilikinya itu menjadi sebuah kesakitan tersendiri dalam film ini. Disini seni untuk menahan gairah dan sakitnya sebuah keinginan yang tidak tercapai dibangun dengan sangat halus dan rapih. Sehingga sangatlah diyakini penonton yang larut dalam film ini akan hanyut dengan hangat dalam pelukan air mata.

            Di akhir film ini memang semuanya berakhir pilu, tak ada satupun yang mendapatkan kekasih idamannya yang selama ini berada di palung hati terdalam. Karena memang film ini mengajak penonton menikmati sakitnya mencintai sesuatu yang hanya bisa dilihat tetapi tak pernah dimiliki. Bahkan penulis sendiri sedang menangis ketika menulis review ini karena saking dalamnya cerita-cerita yang ada di RECTOVERSO. Hal yang membuat penulis menangis juga adalah adegan Prisia Nasution  atau Leia berciuman dengan adiknya Abang atau Hans yang juga mencintainya. Disini saya sangat cemburu ! huh !! :p

            Akhir kata saya memberikan nilai untuk RECTOVERSO 95 (range 100), kurang 5 karena saya sedih Prisia Nasution berciuman! Hehe dan mengucapkan SELAMAT KEPADA RECTOVERSO, SELURUH KRU, AKTOR-AKTRIS, DIRECTOR nya yang merupakan atris-artis juga seperti Olga Lydia, Marcella Zalianty, Cathy Sharon, Happy Salma dan Rachel Maryam. Salut sama semua orang yang terlibat dalam proses ini. Luar biasa !! terkahir saya mengucapkan SELAMAT DAN PENGHARGAAN YANG LUAR BIASA BUAT DEWI ‘DEE’ LESTARI !! kamulah asset bangsa ! seniman yang dapat mengharumkan nama bangsa. Terimakasih atas karyamu yang luar biasa. Ayo pemuda indonesia !! enjoy our national movie and keep support it !!! Viva Movie Indonesia !!.

 

The Amazing 12

Hello World !

I just wake up from my thousand years-sleeping because of one thing, i forget my password to enter this GEROBAK SAMPAH !! hahaha. Anyway, during that moment, GOD saves me by giving me another chance, i hope this chance is the last one. Because at this time, at this moment, GOD has sent me an unable to decribed “material” that brings me joy and happyness that already missing LOL. #Lebay

Anyway,………………………..(the author intends to decribe how amazing you are but *)

*You know, it’s hard for me to just decribe you in a simple-understandable sentence, Seriously*

Because, the feeling inside of my heart is just so deep and i can’t see anything except this feeling of truly love, like the inner-most layer of the ocean where you can decribe anything, because you can see anything except darkness.

In this chance, i just want to say THANK YOU…

To GOD who let me know you, let me standing so near beside you and let me love you.

To You, who teach me the real definition of love, careness, responisibility, maturity, the important of historical value,

teach me how to maintain the anger, emotion, the time..

teach me how to smile freely, honour the GOD, keep it on the track

dan kamu yang telah mengajarkanku BERANI UNTUK BERMIMPI dan BERMIMPI DENGAN BERANI.

Sure, you are the AMAZING ONE, nope !

You are My AMAZING TWELVE Weirdooo :)

GOOD NIGHT WORLD

GOOD NIGHT ANNISA DYAH WIJAYANTI :)

See You When We Are Not Separated by The Distance of 558 km

23.47

Aku harap malam ini kamu ingat alasanku bersamamu,

Aku bersamamu,

karena AKU BERANI BERMIMPI.

Bermimpi akan masa depan tentang aku

Bermimpi akan masa depan tentang kamu

Bermimpi akan masa depan tentang KITA.

Kamu mengerti konsekuensi dari kalimat ini?

Aku mencintaimu seperti Sapardi Djoko Darmono membuat puisi AKU INGIN - nya.

Aku mencintaimu bagai intensitas air laut yang menyentuh pasir di pinggir pantai.

Aku mencintaimu kamu dengan harapan kamu mengerti bahwa kata cinta itu benar adanya.

Selamat Malam

558 km

To Tumblr, Love Pixel Union